Rabu, 30 November 2011
Kamis, 17 November 2011
PROGARAM TRANSMIGRASI DATANG LAGI
Metrotvnews.com, Solo: Puluhan warga Kota Solo, Jawa Tengah, diberangkatkan ke Propinsi Gorontalo, Rabu (16/11), dalam program transmigrasi Pemerintah Kota Solo. Pasalnya, program transmigrasi ini merupakan cara Pemkot Solo untuk mengentaskan kemiskinan warganya.
Sebanyak sembilan kepala keluarga yang ikut program tersebut akan ditempatkan di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo. Nantinya, mereka akan memperoleh jatah masing-masing satu unit rumah serta lahan seluas dua hektare.
Salah seorang transmigran, Bambang Timotius, mengaku mengikuti program ini karena ingin memperbaharui hidupnya. Bambang dan keluarga langsung mendaftar saat Pemkot Solo memberitahukan kepada warga perihal program tersebut.
Transmigrasi menjadi pilihan Bambang dengan tujuan untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Ia berharap, di tanah yang baru, masa depan kluarga menjadi yang lebih baik, terutama bagi anak-anaknya.
Selama tinggal di Solo, kebanyakan transmigran tidak memiliki rumah sendiri. Bahkan, sebagian mengontrak di tepi Sungai Bengawan Solo dengan resiko terkena banjir. (Eka Hari Wibawa/*)
Yunani tidak akan keluar dari Zona Euro
Metrotvnews.com, Athena: Perdana Menteri baru Yunani, Lucas Papademos menegaskan, negeranya tidak akan keluar dari Zona Euro. Papademos juga menyakinkan negara penjamin akan membuat langkah radikal agar negerinya keluar dari krisis ekonomi.
Papademos menyatakan, sejumlah langkah radikal tersebut di antaranya adalah meningkatkan sumber daya serta meregulasi kebijakan fiskal.
Peningkatan sumber daya itu akan dilakukan dengan menghidupkan pertanian dan perkebunan. Hal ini dilakukan untuk memasok kebutuhan pangan Yunani yang selama ini bergantung nyaris seratus persen pada Eropa.
Kini, harga pangan menjadi momok menakutkan bangsa Yunani di tengah kebijakan ekstra ketat dan kenaikan pajak untuk membayar utang.
Papademos mengakui besar anggaran rumah tangga Yunani yang sangat memberatkan adalah gaji pegawai. Pemerintahnya membutuhkan kucuran segera dana talangan tahap lanjutan kelima sebesar 130 juta Euro.
Dana tersebut dibutuhkan Yunani setidaknya untuk bertahan hidup sepanjang enam bulan mendatang. (*)
KRISIS
GLOBAL DAN KEBIJAKAN MONETER
INDONESIA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Makro
Disusun
oleh :
Rima
Rohani
F0311100
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011
I. PENDAHULUAN
Krisis perekonomian global
telah terjadi di tahun 2008. Krisis tersebut memberikan dampak yang berbeda
pada perekonomian global. Pengaruh terhadap perekonomian Indonesia juga sangat
besar sebagai konsekuensi terbukanya sistem perekonomian Indonesia. Krisis
berawal dari negara tembok kapitalis dunia yaitu Amerika Serikat,yaitu kebijakan
moneter pada saat pemerintahan Josh Bush memberikan kredit perumahan dengan
suku bunga yang rendah. Dalam periode panjang kebijakan ini membangkitkan
kegiatan ekonomi yang didanai secara kredit.
Di sisi lain bunga yang rendah serta mudahnya mendapat kredit pinjaman
mendorong meningkatnya jumlah kredit yang memiliki resiko gagal bayar. Kredit
lebih banyak diberikan kepada orang-orang yang tidak memiliki penghasilan.
Sehingga mereka pun juga tidak memiliki kemampuan membayar yang jelas.
Krisis yang terjadi di
Amerika Serikat dapat digambarkan dalam teori domino. Akibat macetnya keuangan
perbankan , secara cepat mengalir dan menyebar pada sistem keuangan dunia. Pergeseran
arus modal yang besar pada berbagai negara menyebabkan guncangan pada
stabilitas sistem keuangan negara- negara tersebut. Akibatnya negara kawasan
mengalami dampak perekonomian yang parah sehingga mengakibatkan lesunya
pertumbuhan ekonomi dunia. Banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan dan
akhirnya mereka mengurangi beberapa tenaga kerjanya. Sehingga pengangguran di
seluruh dunia meningkat secara tajam di tahun 2008. Selain itu inflasi akibat
krisis global juga mengakibatkan transaksi bursa saham menurun drastis. Krisis
global juga telah mempengaruhi perdagangan internasional yaitu menurunnya
ekspor impor barang dan jasa terlebih lagi dengan komoditas ekspor Indonesia
yang didominasi oleh komoditas primer dan komoditas teknologi yang berkualitas
rendah.
Upaya–upaya yang dilakukan dan prospek pemulihan terhadap
kisis global ini didiperkuat dan dipercepat implementasinya. Pemulihan ini
dilakukan dengan menerapkan kebijakan- kebijakan yang mencakup kebijakan
moneter, kebijakan fiskal, dan kebijakan sektor riil. Dalam kebijakan moneter
diterapkan dengan berbagai program injeksi likuiditas serta langkah
penyelamatan lembaga keuangan strategis. Kebijakan fiskal mengarah pada belanja
pemerintah dalam jumlah yang besar dan dilakukan secara bersamaan oleh negara
maju, baik dalam bentuk pemotongan pajak, penciptaan proyek proyek
infrastruktur ,serta pemberian benefit bagi rumah tangga dan perusahaan. Sedangkan
dalam kebijakan sektor riil dengan melakukan perbaikan terhadap permintaan sektor riil dan upaya pembenahan
dari sisi ketersediaan likuiditasyang mendukung kegiatan produksi.
II. PEMBAHASAN
1.
Penyebab
Krisis Global
Perekonomian
beberapa negara sepanjang tahun 2008 diwarnai oleh dinamika dan tantangan yang
cukup berat seiring dengan meningkatnya resiko stabilitas ekonomi akibat
gejolak perekonomian global. Beberapa argumen dibangun untuk melihat faktor
penyebab mendasar di balik krisis keungan global yang tejadi semenjak tahun
2008. Telah disampaikan oleh Doni Satria
dan Solikin M. Juhro bahwa:
Taylor (2009)
mengemukakan bahwa krisis disebabkan oleh kebijakan bank sentral yang cenderung
mempertahankan tingkat bunga terlalu rendah, sebagai konsekuensi rendahnya
tingkat inflasi dalam jangka waktu yang cukup panjang sebelum terjadi krisis.
Taylor memaparkan bahwa bank sentral di negara maju tidak memperhitungkan
risiko di sektor perbankan dan keuangan dalam fungsi reaksi kebijakan
moneternya, sehingga menyebabkan penetapan tingkat bunga nominal yang salah
(terlalu rendah). Implikasi dari analisis ini menunjukan adanya interaksi
antara stance kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral terhadap
risiko di sektor keuangan khususnya perbankan. Sedangkan Mishkin (2009)
mengemukakan bahwa kebijakan moneter cenderung menjadi lebih potensial dimasa
krisis tingkat efektifitasnya dibandingkan dengan kondisi normal, sehingga
memberikan landasan untuk melakukan menejemen risiko makroekonomi untuk
menghadapi masalah kontraksi perekonomian selama periode krisis.
Fakta di atas meunjukkan
bahwa krisis global disebabkan oleh kebijakan moneter perbankan Amerika Serikat
memberikan suku bunga yang terlalu rendah. Kredit tesebut menyebabkan banyak
warga negaranya yang mengambil kredit tersebut. Namun kebanyakan diantara
mereka yang meminjam adalah orang-orang yang berpendapatan rendah. Mereka pun
kurang jelas mengenai kemampuan membayar kredit tersebut. Saat jatuh tempo
mereka tidak mampu membayar untang-utangnya, sehingga terjadi kegagalan
pembayaran kredit perumahan (subprime) di Amerika Serikat sehingga
menyebabkan rusaknya sisitem perbankan bukan hanya di Amerika Serikat namun
juga meluas hingga ke Eropa lalu ke Asia. Secara beruntun menyebabkan
guncangnya solvabilitas dan likuiditas
lembaga- lembaga keuangan di negara- negara tersebut.
Kebijakan pemerintah yang
cenderung expansif dan kurang akomodatif menimbulkan maraknya penyaluran kredit
berisiko tinggi. Apalagi dengan
kemudahan mengajukan pinjaman yang didukung tren jangka panjang peningkatan
harga rumah telah mendorong orang-orang mengajukan kredit yang lebih berisiko
dengan harapan mendapatkan refinansi bunga yang lebih rendah. Gagal bayar dan
pengambilalihan rumah oleh bank meningkat sejalan dengan berakhirnya periode
suku bunga di awal pinjaman, sementara adjustable rate mortgage ( ARM)
menjadi lebih tinggi(BI,2008). Suku bunga rendah dan derasnya aliran dana asing
menciptakan situasi pasar kredit yang kondusif beberapa tahun sebelum krisis.
Kredit perumahan memberikan konstribusi besar bagi peningkatan pemilikan rumah
dan besarnya permintaan di sektor properti. Tingginya permintaan akan rumah
memicu harga rumah meningkat. Pesyaratan kredit yang cukup mudah mendorong para
debitur mengajukan kredit perumahan tersebut( ARM). Hal ini memudahkan debitur
mendapatkan suku bunga yang rendah pada periode tertentu dan untuk periode
mendatang diberlakukan suku bunga pasar.
OPTIMALISASI
POTENSI KELAPA
SEBAGAI
KEUNGGULAN KOMPETITIF INDONESIA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Makro
Disusun
oleh :
Rima
Rohani
F0311100
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011
PENDAHULUAN
Setiap negara di dunia memiliki kekayaan alam yang berbeda-beda.
Kekayaan yang dimiliki oleh suatu negara
belum tentu bisa dimiliki negara lain. Oleh karena itu setiap negara memiliki
keunggulan masing-masing. Begitu pula, Indonesia. Kekayaan yang dimiliki
negara Indonesia
memang tak ternilai harganya. Kekayaan tersebut dapat dilihat dari luasnya perkebunan kelapa. Dunia mencatatnya sebagai perkebunan kelapa yang terluas di dunia, dengan luas areal mencapai 3,86 juta hektare (ha)
atau 31,2 persen dari total areal dunia yang kurang lebih sekitar 12 juta ha. 98 persen dari total
luas perkebunan kelapa di indonesia
merupakan perkebunan rakyat, dan sisanya berupa perkebunan negara dan
perkebunan swasta.
Persebaran kebun kelapa hampir merata di seluruh Indonesia, dengan
sebaran terbanyak berada di Sumatera mencapai, disusul Jawa Tengah, Jawa Timur ,serta beberapa
derah lainnya. Total produksi kelapa sejak tahun 2007 menjadi
produksi terbesar di dunia dan produksi kelapa terbesar
kedua diiukti oleh negara Philipina. Negara
Philipina juga saingan terberat Indonesia di pasaran dunia.
Sebenarnya sumber
daya kelapa merupakan
keunggulan kompetitif Indonesia. Kelapa memberikan potensi
yang sangat besar dalam memasuki
dunia pasar internasional karena kelapa memiliki
kontribusi dan peran strategis hampir pada semua bidang kehidupan, yaitu di
bidang ekonomi, pangan, kesehatan, energi, lingkungan, konstruksi, sosial
budaya, seni dan kerajinan, serta pariwisata. Namun potensi tersebut masih terhalang oleh
beberapa kendala. Kendala yang utama yaitu karena kurangnya tenaga trampil
dalam mengolah kelapa baik secara hulu maupun hilir. Oleh karena itu Indonesia perlu melakukan
optimalisasi terhadap potensi kelapa Indonesia sehingga
mampu menjadi salah satu
motor penggerak perekonomian nasional.
Optimalisasi dilakukan dengan menentukan
kebijakan,stategi, dan program yang tepat. Optimalisasi ini harus dilakukan
beriringan baik oleh pemerintah, industi, maupun petani kelapa. Apabila hal-hal
tersebut sudah terkondisikan di Indonesia, maka akan meningkatkan produktivitas
kelapa dan mampu mengalahkan potensi Philipina yang merupakan saingan terberat
Indonesia.
PEMBAHASAN
Pohon
kelapa sudah tidak asing lagi di telinga kita karena hampir setiap hari kita
mungkin berhubungan dengan hasil dari tanaman kelapa secara langsung maupun
tidak langsung. Kelapa hidup di
daerah tropis dengan iklim panas dan lembab di Asia-Pasifik.
Tanaman kelapa ini menjadi komoditi sosial dimana komoditi ini dibudidayakan
oleh jutaan petani di Indonesia sekaligus
menjadi matapencaharian utamanya. Kelapa dapat tumbuh di semua jenis tanah. Hal
ini terbukti dengan adanya tanaman kelapa rakyat yang tumbuh di tanah
pekarangan, pertamanan, tempat rekreasi, di pematang sawah dan di kebun
bercampur baur dengan macam tanaman lain serta kelapa dapat juga tumbuh di
sungai dan lain-lain. Tetapi bagi perkebunan atau perusahaan yang akan
mendirikan perkebunan kelapa, memerlukan pertimbangan dan syarat tanah tertentu
agar pertumbuhan tanaman cukup baik dan menguntungkan.
Tanaman
kelapa bagi Indonesia merupakan tanaman yang sangat penting, karena tanaman ini
sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, menjadi salah satu komoditi
usahatani rakyat, dan merupakan komoditi ekspor. Kelapa adalah tanaman
serbaguna yang dimana seluruh bagian tanaman ini bermanfaat bagi kehidupan
manusia. Itulah sebabnya tanaman ini telah ratusan tahun dikenal di seluruh
kepulauan nusantara.
Daging dari buah adalah komponen kelapa yang
paling luas penggunaannya. Daging buah dikembangkan baik untuk produk pangan
maupun non pangan mulai dari produk primer yang masih menampakan ciri-cirinya
hingga yang tidak menampakan ciri-cirinya. Pengolahan dalam pemanfaatan daging
buah kelapa yang sangat dikenal masyarakat pada umumnya dapat berupa segar atau lewat kopra (kering) .
Hasil penting dari pengolahan daging kelapa segar adalah desiccated coconut (DC),
coconut cream (CC), coconut milk (CM) dan coconut crude oil (CCO).
Dan kopra atau biasa disebut minyak klentik
masih diproduksi secara tradisional. Selanjutnya dari produk ini dapat
diturunkan beberapa produk hilir. Perkembangan teknologi dan preferensi
konsumen yang telah mengakomodasi isu lingkungan dan kesehatan, telah mendorong
industri kelapa berkembang makin beragam dan mendalam. Produk-produk yang
banyak diminati karena nilai ekonominya yang tinggi diantaranya adalah VCO, AC,
CF, CP, CC, serta oleokimia yang dapat menghasilkan asam lemak, metil ester,
fatty alkohol, fatty amine, fatty nitrogen, glyserol, dan lain-lainnya.
Bahan-bahan tersebut biasanya dipakai industri hilir yang hanya dikuasai oleh beberapa
perusahaan raksasa trans-nasional yaitu: Unilever, Henkel, Procter and Gamble,
dan Colgate Palmolive. Hanya Filipina dari negara produsen kelapa yang tercatat
sebagai eksportir produk oleokimia dari kelapa.
Hubungan
Ketidakjujuran Akademis dengan Perilaku Tidak JuJur Saat Bekerja
Mahasiswa identik dengan tugas yang melimpah.
Setiap dosen pasti akan memberikan tugas kepada mahasiswanya. Tidak heran
mereka sering melakukan kecurangan karena mereka mengemban tugas kuliah yang
begitu banyak. Mereka melakukan kecurangan mungkin karena tidak ada waktu,
kurang siap, dan materi yang terlalu berat untuk mereka. Menurut penilitian
dari Trevor S. Harding,* Donald D. Carpenter,† Cynthia J. Finelli‡ and Honor J. Passow‡ yang berjudul “Does Academic Dishonesty Relate to Unethical
Behavior in Professional Practice? An Exploratory Study” terdapat hubungan
kecurangan yang dilakukan pada saat menjadi mahasiswa dengan kecurangan yang
dilkakukan pada saat mereka bekerja di masa yang akan datang. Hal tersebut dapat dilihat dari penelitiannya
yang mendapatkan kesamaan dalam proses pengambilan keputusan mahasiswa untuk
melakukan kecurangan atau dengan proses pertimbangan untuk melakukan
pelanggaran di dalam tempat kerja atau tidak.
Selain itu juga kecurangan yang dilakukan pada saat akademik merupakan
indicator perilaku ketidakjujuran di masa depan.
Senin, 07 November 2011
Langganan:
Komentar (Atom)
