Bross Orandi cantik murmerrrr :)

Bross Orandi cantik murmerrrr :)
Bross Organdi

Kamis, 17 November 2011


Hubungan Ketidakjujuran Akademis dengan Perilaku Tidak JuJur Saat Bekerja

Mahasiswa identik dengan tugas yang melimpah. Setiap dosen pasti akan memberikan tugas kepada mahasiswanya. Tidak heran mereka sering melakukan kecurangan karena mereka mengemban tugas kuliah yang begitu banyak. Mereka melakukan kecurangan mungkin karena tidak ada waktu, kurang siap, dan materi yang terlalu berat untuk mereka. Menurut penilitian dari Trevor S. Harding,* Donald D. Carpenter,† Cynthia J. Finelli‡ and Honor J. Passow‡ yang berjudul “Does Academic Dishonesty Relate to Unethical Behavior in Professional Practice? An Exploratory Study” terdapat hubungan kecurangan yang dilakukan pada saat menjadi mahasiswa dengan kecurangan yang dilkakukan pada saat mereka bekerja di masa yang akan datang.  Hal tersebut dapat dilihat dari penelitiannya yang mendapatkan kesamaan dalam proses pengambilan keputusan mahasiswa untuk melakukan kecurangan atau dengan proses pertimbangan untuk melakukan pelanggaran di dalam tempat kerja atau tidak.  Selain itu juga kecurangan yang dilakukan pada saat akademik merupakan indicator perilaku ketidakjujuran di masa depan.

Di dalam penelitiannya mereka mengambil sampel mahasiswa teknik di 2 universitas swasta .  96% mahasiswa teknik telah melakukan kecurangan setidaknya satu kali. Kecurangan yang dilakukan mahasiswa teknik sering kali dilakukan pada saat mengerjakan tugas rumah, diikuti oleh laporan laboratorium dan kemudian tes atau kuis.  Sebagai perbandingan lebih lanjut ,hanya 14,3 persen dari responden yang melakukan kecurangan pada ujian akhir. Dan yang sangat menarik mahasiswa banyak melakukan kecurangan pada laporan laboratorium (66,7%) dan progam komputer (58,3% ) daripada yang tidak melakukannnya.  Data menunjukkan bahwa responden memiliki berbagai alasan untuk membenarkan kecurangan. Godaan yang paling umum tunggal untuk kecurangan tersebut untuk menghemat waktu, bukan sebagai sarana untuk mendapatkan keuntungan atas orang lain. Kurang waktu ,marjin yang cukup besar, tidak cukup waktu untuk menyelesaikan tugas, laporan, dll  adalah fackor-faktor  mereka malkukan kecurangan (23,1% dari responden).  Namun ada alasan lainnya yaitu ketidaksiapan mahasiswa, kurangnya motivasi(10,9%), materi yang terlalu berat(8,3%). Selain itu jawaban responden yang tidak melakukan kecurangan tentang alasan mereka memilih untuk jujur dan disiplin karena dikaitkan dengan rasa malu, rasa bersalah, atau kehilangan kehormatan pribadi( 17,7% dari responden). Hal ini dapat digambarkan dengan keragu-raguan untuk melakukan kecurangan berdasarkan konsekuensi yang buruk seperti tingginya probabilitas tertangkap dan takut terhadap sanksinya. Sedangkan keraguan yang disebabkan konsekuensi yang positif karena mereka ingin belajar dan ingin melakukan tugasnya secara sendiri.
Pada  bagian penelitian yang ketiga dari survey, sampel yang diambil adalah orang-orang yang bekerja di suatu perusahaan. Mereka yang melakukan kecurangan memakai scenario yang berbeda dengan kecurangan yang dilakukan mahasiswa. Keseringan dalam melakukuan kecurangan pemakaian perlengkapan  perusahaan ternyata tidak benar(1,98%).  Namun sebanyak 48,8 % dari responden , mereka pernah sekali dalam menggunakan perlengkapan atau peralatan perusahaan. Di masa lalunya ternyata 31,5% mereka pernah sekali terlibat dalam kegiatan memlsukan catatan lembar waktu, laporan beban,dan dokumen jaminan kualitas. Sebanyak 22,4% mereka mengabaikan kualitas bekerja, 16,9% berbohong tentang kualitas bekerja , 15,2% mengabaikan maslah kualitas, 11,2% menerima hadiah yang tidak benar,dan 9,6% mereka mengambil kredit untuk pekerjaan lain.
Alasan mereka melakukan kecurangan dalam perusahaan paling banyak karena menginginkannya atau membutuhkannya(21,8%). Hal ini tidak mengherankan mengingat penyalahgunaan perlengkapan perusahaan adalah scenario yang paling umum dilakukan. Alasan lainnya yaitu karena kegiatan yang dilakukan tidak penting atau tidak berbahaya(10,%).  Ternyata sama 13,8% responden menyatakan tidak ragu-ragu untuk melanggar kebijakan. Mereka (30,0%) yang ragu-ragu karena standar pribadi mereka yang positif  dan mereka ragu-ragu karena takut dipecat atau mendapatkan masalah, dan takut tertangkap.
Melakukan kecurangan di perguruan tinggi ternyata cenderung melakukan kecurangan di tempat kerja. Secara kualitatif meskipun tidak ada pasangannya  , telah menunjukkan kesamaan dalam tanggapan mereka yaitu alasan dalam melakukan kecurangan. Dalam respon yang valid menunjukkan persenan yang sama di tabel alasan kecurangan di perguruan tinggi dengan tempat bekerja. Mereka yang ragu-ragu untuk bertindak curang pun memiliki alasan yang tidak memiliki indicator pasangan pula . Namun jika dicermati ada kesamaan yaitu keragu-raguan mahasiswa untuk melakukan kecurangan lebih karena tingginya probabilitas tertangkap dan takut terhadap sanksinya. Sedangkan keragu-raguan pekerja untuk melakukan tindak kecurangan karena takut tertangkap dan dipecat.
Kesimpulannya ada hubungan kuat antara keterlibatan ketidakjujuran dalam akademis  dengan perilaku yang tidak jujur di tempat kerja. Hal ini menunjukkan perilaku yang menyimpang masa lalu merupakan indicator masa depan untuk berperilaku menyimpang pula. Namun perilaku sebelum dan perilaku di masa yang akan datang berhubungan hanya sebatas mendasari pada determinan seperti sikap, norma subyektif, control perilaku presepsi, dan niat yang tidak berubah dari waktu ke waktu.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar