Hubungan
Ketidakjujuran Akademis dengan Perilaku Tidak JuJur Saat Bekerja
Mahasiswa identik dengan tugas yang melimpah.
Setiap dosen pasti akan memberikan tugas kepada mahasiswanya. Tidak heran
mereka sering melakukan kecurangan karena mereka mengemban tugas kuliah yang
begitu banyak. Mereka melakukan kecurangan mungkin karena tidak ada waktu,
kurang siap, dan materi yang terlalu berat untuk mereka. Menurut penilitian
dari Trevor S. Harding,* Donald D. Carpenter,† Cynthia J. Finelli‡ and Honor J. Passow‡ yang berjudul “Does Academic Dishonesty Relate to Unethical
Behavior in Professional Practice? An Exploratory Study” terdapat hubungan
kecurangan yang dilakukan pada saat menjadi mahasiswa dengan kecurangan yang
dilkakukan pada saat mereka bekerja di masa yang akan datang. Hal tersebut dapat dilihat dari penelitiannya
yang mendapatkan kesamaan dalam proses pengambilan keputusan mahasiswa untuk
melakukan kecurangan atau dengan proses pertimbangan untuk melakukan
pelanggaran di dalam tempat kerja atau tidak.
Selain itu juga kecurangan yang dilakukan pada saat akademik merupakan
indicator perilaku ketidakjujuran di masa depan.
Di dalam penelitiannya mereka mengambil sampel mahasiswa teknik di 2 universitas swasta . 96% mahasiswa teknik telah melakukan kecurangan setidaknya satu kali. Kecurangan yang dilakukan mahasiswa teknik sering kali dilakukan pada saat mengerjakan tugas rumah, diikuti oleh laporan laboratorium dan kemudian tes atau kuis. Sebagai perbandingan lebih lanjut ,hanya 14,3 persen dari responden yang melakukan kecurangan pada ujian akhir. Dan yang sangat menarik mahasiswa banyak melakukan kecurangan pada laporan laboratorium (66,7%) dan progam komputer (58,3% ) daripada yang tidak melakukannnya. Data menunjukkan bahwa responden memiliki berbagai alasan untuk membenarkan kecurangan. Godaan yang paling umum tunggal untuk kecurangan tersebut untuk menghemat waktu, bukan sebagai sarana untuk mendapatkan keuntungan atas orang lain. Kurang waktu ,marjin yang cukup besar, tidak cukup waktu untuk menyelesaikan tugas, laporan, dll adalah fackor-faktor mereka malkukan kecurangan (23,1% dari responden). Namun ada alasan lainnya yaitu ketidaksiapan mahasiswa, kurangnya motivasi(10,9%), materi yang terlalu berat(8,3%). Selain itu jawaban responden yang tidak melakukan kecurangan tentang alasan mereka memilih untuk jujur dan disiplin karena dikaitkan dengan rasa malu, rasa bersalah, atau kehilangan kehormatan pribadi( 17,7% dari responden). Hal ini dapat digambarkan dengan keragu-raguan untuk melakukan kecurangan berdasarkan konsekuensi yang buruk seperti tingginya probabilitas tertangkap dan takut terhadap sanksinya. Sedangkan keraguan yang disebabkan konsekuensi yang positif karena mereka ingin belajar dan ingin melakukan tugasnya secara sendiri.
Pada
bagian penelitian yang ketiga dari survey, sampel yang diambil adalah
orang-orang yang bekerja di suatu perusahaan. Mereka yang melakukan kecurangan
memakai scenario yang berbeda dengan kecurangan yang dilakukan mahasiswa.
Keseringan dalam melakukuan kecurangan pemakaian perlengkapan perusahaan ternyata tidak benar(1,98%). Namun sebanyak 48,8 % dari responden , mereka
pernah sekali dalam menggunakan perlengkapan atau peralatan perusahaan. Di masa
lalunya ternyata 31,5% mereka pernah sekali terlibat dalam kegiatan memlsukan
catatan lembar waktu, laporan beban,dan dokumen jaminan kualitas. Sebanyak
22,4% mereka mengabaikan kualitas bekerja, 16,9% berbohong tentang kualitas
bekerja , 15,2% mengabaikan maslah kualitas, 11,2% menerima hadiah yang tidak
benar,dan 9,6% mereka mengambil kredit untuk pekerjaan lain.
Alasan mereka melakukan kecurangan dalam
perusahaan paling banyak karena menginginkannya atau membutuhkannya(21,8%). Hal
ini tidak mengherankan mengingat penyalahgunaan perlengkapan perusahaan adalah
scenario yang paling umum dilakukan. Alasan lainnya yaitu karena kegiatan yang
dilakukan tidak penting atau tidak berbahaya(10,%). Ternyata sama 13,8% responden menyatakan
tidak ragu-ragu untuk melanggar kebijakan. Mereka (30,0%) yang ragu-ragu karena
standar pribadi mereka yang positif dan
mereka ragu-ragu karena takut dipecat atau mendapatkan masalah, dan takut
tertangkap.
Melakukan kecurangan di perguruan tinggi
ternyata cenderung melakukan kecurangan di tempat kerja. Secara kualitatif
meskipun tidak ada pasangannya , telah
menunjukkan kesamaan dalam tanggapan mereka yaitu alasan dalam melakukan
kecurangan. Dalam respon yang valid menunjukkan persenan yang sama di tabel
alasan kecurangan di perguruan tinggi dengan tempat bekerja. Mereka yang
ragu-ragu untuk bertindak curang pun memiliki alasan yang tidak memiliki
indicator pasangan pula . Namun jika dicermati ada kesamaan yaitu keragu-raguan
mahasiswa untuk melakukan kecurangan lebih karena tingginya probabilitas
tertangkap dan takut terhadap sanksinya. Sedangkan keragu-raguan pekerja untuk
melakukan tindak kecurangan karena takut tertangkap dan dipecat.
Kesimpulannya ada hubungan kuat antara
keterlibatan ketidakjujuran dalam akademis
dengan perilaku yang tidak jujur di tempat kerja. Hal ini menunjukkan
perilaku yang menyimpang masa lalu merupakan indicator masa depan untuk
berperilaku menyimpang pula. Namun
perilaku sebelum dan perilaku di masa yang akan datang berhubungan hanya
sebatas mendasari pada determinan seperti sikap, norma subyektif, control
perilaku presepsi, dan niat yang tidak berubah dari waktu ke waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar