Bross Orandi cantik murmerrrr :)

Bross Orandi cantik murmerrrr :)
Bross Organdi

Kamis, 17 November 2011


KRISIS GLOBAL DAN KEBIJAKAN MONETER
INDONESIA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Makro
                                             





Disusun oleh :
Rima Rohani
F0311100


JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011


I. PENDAHULUAN
Krisis perekonomian global telah terjadi di tahun 2008. Krisis tersebut memberikan dampak yang berbeda pada perekonomian global. Pengaruh terhadap perekonomian Indonesia juga sangat besar sebagai konsekuensi terbukanya sistem perekonomian Indonesia. Krisis berawal dari negara tembok kapitalis dunia yaitu Amerika Serikat,yaitu kebijakan moneter pada saat pemerintahan Josh Bush memberikan kredit perumahan dengan suku bunga yang rendah. Dalam periode panjang kebijakan ini membangkitkan kegiatan ekonomi yang didanai secara kredit.  Di sisi lain bunga yang rendah serta mudahnya mendapat kredit pinjaman mendorong meningkatnya jumlah kredit yang memiliki resiko gagal bayar. Kredit lebih banyak diberikan kepada orang-orang yang tidak memiliki penghasilan. Sehingga mereka pun juga tidak memiliki kemampuan membayar yang jelas.
Krisis yang terjadi di Amerika Serikat dapat digambarkan dalam teori domino. Akibat macetnya keuangan perbankan , secara cepat mengalir dan menyebar pada sistem keuangan dunia. Pergeseran arus modal yang besar pada berbagai negara menyebabkan guncangan pada stabilitas sistem keuangan negara- negara tersebut. Akibatnya negara kawasan mengalami dampak perekonomian yang parah sehingga mengakibatkan lesunya pertumbuhan ekonomi dunia. Banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan dan akhirnya mereka mengurangi beberapa tenaga kerjanya. Sehingga pengangguran di seluruh dunia meningkat secara tajam di tahun 2008. Selain itu inflasi akibat krisis global juga mengakibatkan transaksi bursa saham menurun drastis. Krisis global juga telah mempengaruhi perdagangan internasional yaitu menurunnya ekspor impor barang dan jasa terlebih lagi dengan komoditas ekspor Indonesia yang didominasi oleh komoditas primer dan komoditas teknologi yang berkualitas rendah.
                Upaya–upaya yang dilakukan dan prospek pemulihan terhadap kisis global ini didiperkuat dan dipercepat implementasinya. Pemulihan ini dilakukan dengan menerapkan kebijakan- kebijakan yang mencakup kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan kebijakan sektor riil. Dalam kebijakan moneter diterapkan dengan berbagai program injeksi likuiditas serta langkah penyelamatan lembaga keuangan strategis. Kebijakan fiskal mengarah pada belanja pemerintah dalam jumlah yang besar dan dilakukan secara bersamaan oleh negara maju, baik dalam bentuk pemotongan pajak, penciptaan proyek proyek infrastruktur ,serta pemberian benefit bagi rumah tangga dan perusahaan. Sedangkan dalam kebijakan sektor riil dengan melakukan perbaikan terhadap  permintaan sektor riil dan upaya pembenahan dari sisi ketersediaan likuiditasyang mendukung kegiatan produksi.

II. PEMBAHASAN
1.      Penyebab Krisis Global
            Perekonomian beberapa negara sepanjang tahun 2008 diwarnai oleh dinamika dan tantangan yang cukup berat seiring dengan meningkatnya resiko stabilitas ekonomi akibat gejolak perekonomian global. Beberapa argumen dibangun untuk melihat faktor penyebab mendasar di balik krisis keungan global yang tejadi semenjak tahun 2008. Telah disampaikan oleh  Doni Satria dan Solikin M. Juhro bahwa:

Taylor (2009) mengemukakan bahwa krisis disebabkan oleh kebijakan bank sentral yang cenderung mempertahankan tingkat bunga terlalu rendah, sebagai konsekuensi rendahnya tingkat inflasi dalam jangka waktu yang cukup panjang sebelum terjadi krisis. Taylor memaparkan bahwa bank sentral di negara maju tidak memperhitungkan risiko di sektor perbankan dan keuangan dalam fungsi reaksi kebijakan moneternya, sehingga menyebabkan penetapan tingkat bunga nominal yang salah (terlalu rendah). Implikasi dari analisis ini menunjukan adanya interaksi antara stance kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral terhadap risiko di sektor keuangan khususnya perbankan. Sedangkan Mishkin (2009) mengemukakan bahwa kebijakan moneter cenderung menjadi lebih potensial dimasa krisis tingkat efektifitasnya dibandingkan dengan kondisi normal, sehingga memberikan landasan untuk melakukan menejemen risiko makroekonomi untuk menghadapi masalah kontraksi perekonomian selama periode krisis.

Fakta di atas meunjukkan bahwa krisis global disebabkan oleh kebijakan moneter perbankan Amerika Serikat memberikan suku bunga yang terlalu rendah. Kredit tesebut menyebabkan banyak warga negaranya yang mengambil kredit tersebut. Namun kebanyakan diantara mereka yang meminjam adalah orang-orang yang berpendapatan rendah. Mereka pun kurang jelas mengenai kemampuan membayar kredit tersebut. Saat jatuh tempo mereka tidak mampu membayar untang-utangnya, sehingga terjadi kegagalan pembayaran kredit perumahan (subprime) di Amerika Serikat sehingga menyebabkan rusaknya sisitem perbankan bukan hanya di Amerika Serikat namun juga meluas hingga ke Eropa lalu ke Asia. Secara beruntun menyebabkan guncangnya solvabilitas dan likuiditas  lembaga- lembaga keuangan di negara- negara tersebut.
Kebijakan pemerintah yang cenderung expansif dan kurang akomodatif menimbulkan maraknya penyaluran kredit berisiko tinggi. Apalagi dengan kemudahan mengajukan pinjaman yang didukung tren jangka panjang peningkatan harga rumah telah mendorong orang-orang mengajukan kredit yang lebih berisiko dengan harapan mendapatkan refinansi bunga yang lebih rendah. Gagal bayar dan pengambilalihan rumah oleh bank meningkat sejalan dengan berakhirnya periode suku bunga di awal pinjaman, sementara adjustable rate mortgage ( ARM) menjadi lebih tinggi(BI,2008). Suku bunga rendah dan derasnya aliran dana asing menciptakan situasi pasar kredit yang kondusif beberapa tahun sebelum krisis. Kredit perumahan memberikan konstribusi besar bagi peningkatan pemilikan rumah dan besarnya permintaan di sektor properti. Tingginya permintaan akan rumah memicu harga rumah meningkat. Pesyaratan kredit yang cukup mudah mendorong para debitur mengajukan kredit perumahan tersebut( ARM). Hal ini memudahkan debitur mendapatkan suku bunga yang rendah pada periode tertentu dan untuk periode mendatang diberlakukan suku bunga pasar.

Sumber : Bank Indonesia (diolah)
1. Debitur kategori subprime membayar suku bunga 2% lebih mahal dibandingkan dengan kategori       yang lebih baik
2. Kreditur menarik dana melalui KPR eksotik seperti no-doc loans, dengan persyaratan mudah.
3. Bank besar membeli KPR subprime, kemudian dibundel dan dijual keperusahaan keuangan di Wall Street
4. KPR Subprime kemudian disekuritisasi menjadi MBS dan CDO
5. Lembaga Rating memberi penilaian dari MBS dan CDO tersebut.
6. CDO yang terbentuk merupakan kumpulan surat berharga yang berbasis KPR dan pinjaman rumah lainnya.
7. Investor seperti Hedge Fund menyukai produk ini karena menawarkan return yang tinggi dibandingkan obligasi lain yang memiliki rating yang sama.

Skema 1.1 Kronologis Krisis Subprime

Sebenarnya krisis terjadi dipicu oleh gagal bayar di kelompok subprime,  yang kemudian menimbulkan buble  disektor properti. Pada bulan September 2008, rata-rata harga rumah di AS telah turun 20% dari level tertingginyandi pertengahan 2006 (BI,2008). Turunnya harga rumah membuat debitur tidak bisa melakukan refinansi sehingga menimbulkan ketidakmampuan membayar cicilan bulanan yang semakin besar. Kegagalan membayar cicilan tersebut membuat bank mengambil alih kepemilikan rumah sehingga meningkatkan stok rumah untuk dijual meningkat. Hal tersebut memberikan tekanan terhadap harga rumah dan menimbulkan keadaan buble.
CDO dan MBS berbasis subprime selalu mendapatkan rating di atas investment grade. Rating yang tinggi saat itu dibenarkan karena penilaiannya telah didasari oleh praktik manajemen risiko yang dianggap lazim seperti memberi jaminan berlebihan saat berhutang, atau adanya jaminan jika kredit mengalami default. Tingginya rating mendorong investor membeli sekuritas berbasis subprime sehingga turut membiayai terjadinya boom di sektor properti (Skema 1.1). Antara triwulan III- 2007 sampai dengan triwulan II-2008, lembaga rating menurunkan credit rating bagi MBS sejumlah 1,9 triliun dolar AS yang membuat harga saham perusahaan yang banyak memiliki MBS tersebut jatuh(BI,2008).
2. Akibat Krisis Global
Krisis keaungan global berdampak pada perkembangan ekonomi global yang melambat. Ratusan perusahaan mengalami gulung tikar dan terpaksa harus mengurangi tenaga kerjanya. Hal ini mengakibatkan pengangguran meningkat secara tajam. Dampaknya,konsumsi rumah tanggga terus tertekan karena pendapatan yang berkurang. Apalagi dengan bangkrutnya bank investasi Lehman Brothers meyebabkan likuditas secara tiba-tiba mengering di seluruh dunia dan melemahkan kegiatan ekonomi global. Di sisi perdagangan, kinerja ekspor semakin tertekan dengan anjloknya harga yang berdampak cukup kuat khususnya ke negara-negara pengekspor komoditas sumber daya alam (SDA).
Meskipun tumbuh tinggi sampai dengan triwulan III-2008, pertumbuhan ekonomi Indonesia  secara drastis melambat pada triwulan IV-2008 seiring dengan perlambatan ekonomi dunia yang semakin dalam (BI,2008). Perlambatan pertumbuhan terjadi pada seluruh komponen permintaan agregat, terutama ekspor yang anjlok secara tajam seiring dengan turunnya harga komoditas. Merosotnya harga komoditas Internasional menurunkan kinerja neraca pembayaran khususnya negara-negara pengekspor seperti Indonesia.
Indonesia tidak sepenuhnya bisa terhindar dari imbas krisis. Perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2008 diwarnai oleh dinamika dan tantangan yang cukup berat seiring dengan meningkatnya risiko stabilitas ekonomi. Terjadinya keketatan kredit global yang mencapai puncak setelah bangkrutnya Lehman Brothers, berimbas pada stabilitas pasar keuangan di Indonesia yang ditandai oleh terdepresiasinya nilai tukar, anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan penurunan harga Surat Utang Negara (SUN). Risiko antarbank juga meningkat menyusul permasalahan likuiditas yang dialami Bank Century. Demikian pula, perbankan Indonesia tidak terhindar dari masalah produk derivatif, meskipun skalanya lebih kecil dibandingkan dengan sejumlah negara lain.
Krisis  Global ini secara langsung memberikan pengaruh terhadap pasar input khususnya pada pasar modal. Namun penyesuaiannya juga terjadi pada pasar tenaga kerja.  Denny Permatasari dan Nur Iriawan bahwa:

 Dalam proses selanjutnya, dampak shock akan tersalurkan ke proses aktivitas setiap sektorpada masing-masing perekonomian daerah. Bagi agen, dampak perubahan pasar output dan input tersebut akan terasa melalui berbagai jalur, dua yang terbesar adalah melalui konsumsi dan pendapatan atas kepemilikan faktor. Terhadap industri, besarnya pengaruh shock ini tergantung pada intensitas penggunaan input (modal, tenaga kerja dan input antara) serta produktivitas dari masing-masing input tersebut dalam proses produksi. Dalam hal ini, semakin  tinggi intensitas penggunaan modal dan input antara yang bersumber dari luar negeri, maka semakin tinggi exposure industri tersebut dan akan semakin tinggi dampak yang dirasakannya. Identifikasi dampak terhadap industri ini dapat ditelusuri menurut jenis sektor dan menurut skala industrinya, dengan catatan bahwa database CGE yang digunakan sudah mengandung informasi tersebut.
  
Dampak krisis keuangan dunia yang terjadi menjelang triwulan III/2008, yang ternyata berimbas kepada sektor industri pengolahan sedang dan besar di Indonesia, mengakibatkan pertumbuhan produksi industri pengolahan sedang dan besar kontraksi sebesar minus 3,40 persen pada triwulan IV/2008 (BPS,2009). Penurunan jumlah produksi tesebut mengakibatkan mereka mengurangi faktor produksi pada tenaga kerjanya. Harga dari produknya pun meningkat sehingga menurunkan daya beli masyarakat. Kebijakan perusahaan tersebut hampir dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Kenaikan harga-harga barang konsumsi telah menunjukkan terjadinya inflasi di negara Indonesia. Terjadinya kenaikan komoditas energi di dunia menyebabkan pemerinttah tidak mampu memberikan sumbangan subsidi. Akibatya, harga BBM di Indonesia naik. Dampak krisis global juga mengakibatkan terjadinya krisis kepercayaan tehadap bank-bank yang ada. Sehingga transaksi terhadap bank( pinjam-meminjam) semakin melemah.
3. Kebijakan Terhadap Krisis Global
Meskipun terjadi gejolak perekonomian global, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain, khususnya di wilayah regional. Bank Indonesia telah mengambil serangkaian kebijakan moneter, perbankan, dan sistem pembayaran secara cermat dan berhati-hati yang bertujuan untuk mengurangi dampak gejolak perekonomian global terhadap perekonomian domestik. Upaya menjaga stabilitas perekonomian dan sistem keuangan tersebut dilakukan dengan tetap mengacu pada tercapainya sasaran inflasi jangka menengah yang rendah dan stabil guna menjaga kestabilan perekonomian di Indonesia.
Selama tahun 2008, Bank Indonesia secara konsisten menerapkan Inflation Targeting Framework (ITF) sebagai kerangka kebijakan moneter dalam rangka pencapaian target inflasi jangka menengah yang ditetapkan Pemerintah (BI,2008). BI Rate, sebagai sinyal respon  kebijakan moneter, digunakan untuk mengarahkan pergerakan inflasi dan ekonomi ke depan agar tetap berada pada jalur pencapaian sasaran inflasinya. Untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter tersebut, Bank Indonesia menempuh berbagai kebijakan untuk menjaga likuiditas di pasar uang rupiah termasuk penyempurnaan pengelolaannya. Bank Indonesia juga melakukan berbagai kebijakan dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Secara umum, kebijakan Bank Indonesia, yang dilakukan bersinergi dengan Pemerintah, telah dapat mengendalikan inflasi sehingga tidak meningkat lebih lanjut dan menahan nilai tukar rupiah untuk tidak terdepresiasi lebih jauh.
Sebelumnya Indonesia dalam menghadapi gejolak perekonomian global dengan menggunakan international reserves sebagai buffer stock untuk berjaga-jaga guna menghadapi ketidakpastian keadaan yang akan datang. Di saat nilai tukar mata uang rupiah turun terhadap dolar maka international reserves ini digunakan untuk stabilisasi. Namun pada saat cateris paribus , international reserves tidak dapat berperan penuh sebagai penstabil nilai tukar mata uang. Dapat dikatakan pula bahwa international reserves diragukan efektifitasnya karena saat itu metode ini kurang menggembirakan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar cenderung melemah meskipun international reserves Indonesia terkuras dan menipis.Peningkatan rata-rata international reserves Indonesia selama periode penelitian yang dilakukan oleh Priadi Asmanto dan Sekar Suryandari(2008) adalah sebesar 6,21 % sedangkan perubahan rata-rata nilai tukar riil mata uang rupiah adalah apresiasi sebesar 0,65%. Real exchange rate  Indonesia kurang elastis terhadap perubahan yang terjadi pada international reserves.
Menyikapi keadaan melambungnya harga minyak dan krisis ekonomi global, Pemerintah dan Bank Indonesia melakukan berbagai langkah kebijakan stabilisasi ekonomi makro. Hingga akhir triwulan I-2008, Bank Indonesia tetap mempertahankan BI  Rate di level 8% dengan pertimbangan kondisi ekses likuiditas dan interest rate differential yang masih lebar (BI,2008). Kebijakan tersebut juga telah mempertimbangkan bahwa stabilitas suku bunga tidak mengganggu stabilitas sistem keuangan. Namun demikian, kenaikan harga minyak yang sangat tinggi pada April 2008 menimbulkan tekanan inflasi yang tinggi baik bersumber dari kenaikan harga barang pangan maupun nonpangan. Tekanan inflasi juga diakibatkan oleh semakin kuatnya perintaan dalam negeri. Untuk mencegah akselerasi tekanan terhadap stabilitas makro, Bank Indonesia secara bertahap dan terukur menaikan BI Rate sebesar 150 basis poin (bps) sejak April 2008 hingga mencapai 9,5% pada Oktober 2008 (BI,2008).
Bank Indonesia melakukan penguatan dalam melekukan stabilisasi ekonomi dengan berbagai kebijakan untuk meredam dampak negatif dari krisis keuangan global. Terkait dengan hal tersebut, pada Oktober 2008 Bank Indonesia mengeluarkan paket kebijakan stabilisasi nilai tukar yang ditujukan untuk mengelola pasokan dan permintaan valas. Kebijakan untuk menstabilkan pasokan valas mencakup ketentuan FX Swap, Giro Wajib Minimum (GWM) valas, pelayanan terhadap korporasi dan Wesel Ekspor Berjangka (WEB). Sementara itu, untuk mengelola permintaan valas, kebijakan yang dilakukan yakni melarang transaksi valas antara Bank dan nasabah yang dilakukan tanpa dukungan transaksi ekonomi (underlying transaction), serta penyediaan valas untuk PLN dalam jangka pendek. Pemerintah juga memperkuat berbagai langkah kebijakan tersebut dengan menerbitkan ketentuan terkait Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK), menaikkan batas simpanan nasabah yang dijamin menjadi Rp2 miliar, mengendalikan impor komoditas tertentu, mengurangi Pajak Ekspor (PE) CPO, mewajibkan BUMN untuk menempatkan dana valas dalam perbankan domestik, melakukan buyback saham BUMN dan SUN, melarang praktek short selling pada bursa saham, serta melanjutkan perjanjian bilateral swap yang sudah berlangsung.
Untuk keseluruhan tahun 2008, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,1% (yoy), relatif tinggi dibandingkan dengan negara tetangga kendati dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi global terhadap perekonomian domestik berdampak cukup signifikan, terutama pada triwulan IV-2008 (BI,2008). Dilihat dari distribusinya, pangsa konsumsi swasta terhadap PDB masih dominan. Namun demikian, pangsa konsumsi swasta terhadap PDB cenderung menurun dibandingkan dengan tahun 2007, sedangkan pangsa ekspor cenderung meningkat  dan tidak terlepas dari tingginya pertumbuhan ekspor akibat lonjakan harga komoditas pada paruh pertama 2008 (BI,2008).








DAFTAR PUSTAKA
Doni,S & Solikin,M 2011, ‘Perilaku Risiko dalam Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter di  Indonesia’, BULETIN EKONOMI MONETER DAN PERBANKAN,vol.13, no.3,hh.252, 23  Oktober 2011,< http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/6CF7CC5E-3030-41A7-8991-6BB8EA72295F/23138/DoniSatriaSolikin.pdf>.

Bank Indonesia 2008, Menakar Prospek Ekonomi Global,Jakarta,hh.62-63,28 Oktober 2011,< http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/8DA09E93-A4E4-4B46-A58C-844D90A9C329/16416/004_bab_ II1.zip>.

Bank Indonesia 2008, Kinerja dan Prospek Perekonomian Indonesia serta Arah Kebijakan,Jakarta,hh.4-7,28 Oktober 2011,< http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/8DA09E93-A4E4-4B46-A58C-844D90A9C329/16415/003_bab_I1.zip>.
Denny,P & Nur,I 2009,’ Pemodelan Kurva Imbal Hasil Obligasi Korporasi Rating AA dan A dengan Nelson Siegel Svensson dan Cubic Spline smoothing’, BULETIN EKONOMI MONETER DAN PERBANKAN, vol.11,no.4, hh.323,28 Oktober 2011,< http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/909D9BF9-4B51-411C-B31B-2FBD76806174/17745/BEMP_04091.zip>
Badan Pusat Statistik 2009,Pertumbuhan Industri Pengolahan Sedang dan Besar Triwulan IV Tahun 2008, Jakarta, hh.2, 25 Oktober 2011,< http://www.bps.go.id/getfile.php?news=662>.
Priadi,A& Sekar,S 2008,’ Cadangan Devisa , Fimancial Deepening dan Stabilisasi Nilai Tukar Riil Rupiah Akibat Gejolak Nilai Tukar Perdagangan’, BULETIN EKONOMI MONETER DAN PERBANKAN,vol.11,no.2, hh.138, 28 Oktober 2011,<http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/557B6854-A668-4BF3-B5F1-C9282D696EEF/17294/BEMP_Vol11_02_08.zip>




Tidak ada komentar:

Posting Komentar