KRISIS
GLOBAL DAN KEBIJAKAN MONETER
INDONESIA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Makro
Disusun
oleh :
Rima
Rohani
F0311100
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011
I. PENDAHULUAN
Krisis perekonomian global
telah terjadi di tahun 2008. Krisis tersebut memberikan dampak yang berbeda
pada perekonomian global. Pengaruh terhadap perekonomian Indonesia juga sangat
besar sebagai konsekuensi terbukanya sistem perekonomian Indonesia. Krisis
berawal dari negara tembok kapitalis dunia yaitu Amerika Serikat,yaitu kebijakan
moneter pada saat pemerintahan Josh Bush memberikan kredit perumahan dengan
suku bunga yang rendah. Dalam periode panjang kebijakan ini membangkitkan
kegiatan ekonomi yang didanai secara kredit.
Di sisi lain bunga yang rendah serta mudahnya mendapat kredit pinjaman
mendorong meningkatnya jumlah kredit yang memiliki resiko gagal bayar. Kredit
lebih banyak diberikan kepada orang-orang yang tidak memiliki penghasilan.
Sehingga mereka pun juga tidak memiliki kemampuan membayar yang jelas.
Krisis yang terjadi di
Amerika Serikat dapat digambarkan dalam teori domino. Akibat macetnya keuangan
perbankan , secara cepat mengalir dan menyebar pada sistem keuangan dunia. Pergeseran
arus modal yang besar pada berbagai negara menyebabkan guncangan pada
stabilitas sistem keuangan negara- negara tersebut. Akibatnya negara kawasan
mengalami dampak perekonomian yang parah sehingga mengakibatkan lesunya
pertumbuhan ekonomi dunia. Banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan dan
akhirnya mereka mengurangi beberapa tenaga kerjanya. Sehingga pengangguran di
seluruh dunia meningkat secara tajam di tahun 2008. Selain itu inflasi akibat
krisis global juga mengakibatkan transaksi bursa saham menurun drastis. Krisis
global juga telah mempengaruhi perdagangan internasional yaitu menurunnya
ekspor impor barang dan jasa terlebih lagi dengan komoditas ekspor Indonesia
yang didominasi oleh komoditas primer dan komoditas teknologi yang berkualitas
rendah.
Upaya–upaya yang dilakukan dan prospek pemulihan terhadap
kisis global ini didiperkuat dan dipercepat implementasinya. Pemulihan ini
dilakukan dengan menerapkan kebijakan- kebijakan yang mencakup kebijakan
moneter, kebijakan fiskal, dan kebijakan sektor riil. Dalam kebijakan moneter
diterapkan dengan berbagai program injeksi likuiditas serta langkah
penyelamatan lembaga keuangan strategis. Kebijakan fiskal mengarah pada belanja
pemerintah dalam jumlah yang besar dan dilakukan secara bersamaan oleh negara
maju, baik dalam bentuk pemotongan pajak, penciptaan proyek proyek
infrastruktur ,serta pemberian benefit bagi rumah tangga dan perusahaan. Sedangkan
dalam kebijakan sektor riil dengan melakukan perbaikan terhadap permintaan sektor riil dan upaya pembenahan
dari sisi ketersediaan likuiditasyang mendukung kegiatan produksi.
II. PEMBAHASAN
1.
Penyebab
Krisis Global
Perekonomian
beberapa negara sepanjang tahun 2008 diwarnai oleh dinamika dan tantangan yang
cukup berat seiring dengan meningkatnya resiko stabilitas ekonomi akibat
gejolak perekonomian global. Beberapa argumen dibangun untuk melihat faktor
penyebab mendasar di balik krisis keungan global yang tejadi semenjak tahun
2008. Telah disampaikan oleh Doni Satria
dan Solikin M. Juhro bahwa:
Taylor (2009)
mengemukakan bahwa krisis disebabkan oleh kebijakan bank sentral yang cenderung
mempertahankan tingkat bunga terlalu rendah, sebagai konsekuensi rendahnya
tingkat inflasi dalam jangka waktu yang cukup panjang sebelum terjadi krisis.
Taylor memaparkan bahwa bank sentral di negara maju tidak memperhitungkan
risiko di sektor perbankan dan keuangan dalam fungsi reaksi kebijakan
moneternya, sehingga menyebabkan penetapan tingkat bunga nominal yang salah
(terlalu rendah). Implikasi dari analisis ini menunjukan adanya interaksi
antara stance kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral terhadap
risiko di sektor keuangan khususnya perbankan. Sedangkan Mishkin (2009)
mengemukakan bahwa kebijakan moneter cenderung menjadi lebih potensial dimasa
krisis tingkat efektifitasnya dibandingkan dengan kondisi normal, sehingga
memberikan landasan untuk melakukan menejemen risiko makroekonomi untuk
menghadapi masalah kontraksi perekonomian selama periode krisis.
Fakta di atas meunjukkan
bahwa krisis global disebabkan oleh kebijakan moneter perbankan Amerika Serikat
memberikan suku bunga yang terlalu rendah. Kredit tesebut menyebabkan banyak
warga negaranya yang mengambil kredit tersebut. Namun kebanyakan diantara
mereka yang meminjam adalah orang-orang yang berpendapatan rendah. Mereka pun
kurang jelas mengenai kemampuan membayar kredit tersebut. Saat jatuh tempo
mereka tidak mampu membayar untang-utangnya, sehingga terjadi kegagalan
pembayaran kredit perumahan (subprime) di Amerika Serikat sehingga
menyebabkan rusaknya sisitem perbankan bukan hanya di Amerika Serikat namun
juga meluas hingga ke Eropa lalu ke Asia. Secara beruntun menyebabkan
guncangnya solvabilitas dan likuiditas
lembaga- lembaga keuangan di negara- negara tersebut.
Kebijakan pemerintah yang
cenderung expansif dan kurang akomodatif menimbulkan maraknya penyaluran kredit
berisiko tinggi. Apalagi dengan
kemudahan mengajukan pinjaman yang didukung tren jangka panjang peningkatan
harga rumah telah mendorong orang-orang mengajukan kredit yang lebih berisiko
dengan harapan mendapatkan refinansi bunga yang lebih rendah. Gagal bayar dan
pengambilalihan rumah oleh bank meningkat sejalan dengan berakhirnya periode
suku bunga di awal pinjaman, sementara adjustable rate mortgage ( ARM)
menjadi lebih tinggi(BI,2008). Suku bunga rendah dan derasnya aliran dana asing
menciptakan situasi pasar kredit yang kondusif beberapa tahun sebelum krisis.
Kredit perumahan memberikan konstribusi besar bagi peningkatan pemilikan rumah
dan besarnya permintaan di sektor properti. Tingginya permintaan akan rumah
memicu harga rumah meningkat. Pesyaratan kredit yang cukup mudah mendorong para
debitur mengajukan kredit perumahan tersebut( ARM). Hal ini memudahkan debitur
mendapatkan suku bunga yang rendah pada periode tertentu dan untuk periode
mendatang diberlakukan suku bunga pasar.

Sumber : Bank Indonesia
(diolah)
1. Debitur kategori subprime membayar
suku bunga 2% lebih mahal dibandingkan dengan kategori yang lebih baik
2. Kreditur menarik dana melalui KPR
eksotik seperti no-doc loans, dengan persyaratan mudah.
3. Bank besar membeli KPR subprime,
kemudian dibundel dan dijual keperusahaan keuangan di Wall Street
4. KPR Subprime kemudian disekuritisasi menjadi MBS dan CDO
5. Lembaga Rating memberi penilaian
dari MBS dan CDO tersebut.
6. CDO yang
terbentuk merupakan kumpulan surat berharga yang berbasis KPR dan pinjaman
rumah lainnya.
7. Investor seperti Hedge Fund menyukai
produk ini karena menawarkan return yang tinggi dibandingkan obligasi
lain yang memiliki rating yang sama.
Skema 1.1 Kronologis
Krisis Subprime
Sebenarnya krisis terjadi
dipicu oleh gagal bayar di kelompok subprime, yang kemudian menimbulkan buble disektor properti. Pada bulan September 2008,
rata-rata harga rumah di AS telah turun 20% dari level tertingginyandi
pertengahan 2006 (BI,2008). Turunnya harga rumah membuat debitur tidak bisa
melakukan refinansi sehingga menimbulkan ketidakmampuan membayar cicilan
bulanan yang semakin besar. Kegagalan membayar cicilan tersebut membuat bank
mengambil alih kepemilikan rumah sehingga meningkatkan stok rumah untuk dijual
meningkat. Hal tersebut memberikan tekanan terhadap harga rumah dan menimbulkan
keadaan buble.
CDO dan MBS berbasis subprime
selalu mendapatkan rating di atas investment grade. Rating
yang tinggi saat itu dibenarkan karena penilaiannya telah didasari oleh
praktik manajemen risiko yang dianggap lazim seperti memberi jaminan berlebihan
saat berhutang, atau adanya jaminan jika kredit mengalami default.
Tingginya rating mendorong investor membeli sekuritas berbasis subprime
sehingga turut membiayai terjadinya boom di sektor properti (Skema
1.1). Antara triwulan III- 2007 sampai dengan triwulan II-2008, lembaga rating
menurunkan credit rating bagi MBS sejumlah 1,9 triliun dolar AS yang
membuat harga saham perusahaan yang banyak memiliki MBS tersebut jatuh(BI,2008).
2. Akibat Krisis Global
Krisis keaungan global
berdampak pada perkembangan ekonomi global yang melambat. Ratusan perusahaan
mengalami gulung tikar dan terpaksa harus mengurangi tenaga kerjanya. Hal ini
mengakibatkan pengangguran meningkat secara tajam. Dampaknya,konsumsi rumah
tanggga terus tertekan karena pendapatan yang berkurang. Apalagi dengan
bangkrutnya bank investasi Lehman Brothers meyebabkan likuditas secara
tiba-tiba mengering di seluruh dunia dan melemahkan kegiatan ekonomi global. Di
sisi perdagangan, kinerja ekspor semakin tertekan dengan anjloknya harga yang
berdampak cukup kuat khususnya ke negara-negara pengekspor komoditas sumber
daya alam (SDA).
Meskipun tumbuh tinggi
sampai dengan triwulan III-2008, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara drastis melambat pada triwulan IV-2008
seiring dengan perlambatan ekonomi dunia yang semakin dalam (BI,2008).
Perlambatan pertumbuhan terjadi pada seluruh komponen permintaan agregat,
terutama ekspor yang anjlok secara tajam seiring dengan turunnya harga
komoditas. Merosotnya harga komoditas Internasional menurunkan kinerja neraca
pembayaran khususnya negara-negara pengekspor seperti Indonesia.
Indonesia tidak sepenuhnya
bisa terhindar dari imbas krisis. Perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2008
diwarnai oleh dinamika dan tantangan yang cukup berat seiring dengan
meningkatnya risiko stabilitas ekonomi. Terjadinya keketatan kredit global yang
mencapai puncak setelah bangkrutnya Lehman Brothers, berimbas pada stabilitas
pasar keuangan di Indonesia yang ditandai oleh terdepresiasinya nilai tukar,
anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan penurunan harga Surat Utang
Negara (SUN). Risiko antarbank juga meningkat menyusul permasalahan likuiditas
yang dialami Bank Century. Demikian pula, perbankan Indonesia tidak terhindar
dari masalah produk derivatif, meskipun skalanya lebih kecil dibandingkan
dengan sejumlah negara lain.
Krisis Global ini secara langsung memberikan
pengaruh terhadap pasar input khususnya pada pasar modal. Namun penyesuaiannya
juga terjadi pada pasar tenaga kerja. Denny Permatasari dan
Nur Iriawan bahwa:
Dalam proses selanjutnya, dampak shock akan
tersalurkan ke proses aktivitas setiap sektorpada masing-masing perekonomian
daerah. Bagi agen, dampak perubahan pasar output dan input tersebut akan terasa
melalui berbagai jalur, dua yang terbesar adalah melalui konsumsi dan
pendapatan atas kepemilikan faktor. Terhadap industri, besarnya pengaruh shock
ini tergantung pada intensitas penggunaan input (modal, tenaga kerja dan input
antara) serta produktivitas dari masing-masing input tersebut dalam proses
produksi. Dalam hal ini, semakin tinggi
intensitas penggunaan modal dan input antara yang bersumber dari luar negeri,
maka semakin tinggi exposure industri tersebut dan akan semakin tinggi dampak
yang dirasakannya. Identifikasi dampak terhadap industri ini dapat ditelusuri
menurut jenis sektor dan menurut skala industrinya, dengan catatan bahwa
database CGE yang digunakan sudah mengandung informasi tersebut.
Dampak krisis keuangan
dunia yang terjadi menjelang triwulan III/2008, yang ternyata berimbas kepada
sektor industri pengolahan sedang dan besar di Indonesia, mengakibatkan
pertumbuhan produksi industri pengolahan sedang dan besar kontraksi sebesar
minus 3,40 persen pada triwulan IV/2008 (BPS,2009). Penurunan jumlah produksi
tesebut mengakibatkan mereka mengurangi faktor produksi pada tenaga kerjanya.
Harga dari produknya pun meningkat sehingga menurunkan daya beli masyarakat.
Kebijakan perusahaan tersebut hampir dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di
Indonesia. Kenaikan harga-harga barang konsumsi telah menunjukkan terjadinya
inflasi di negara Indonesia. Terjadinya kenaikan komoditas energi di dunia
menyebabkan pemerinttah tidak mampu memberikan sumbangan subsidi. Akibatya,
harga BBM di Indonesia naik. Dampak krisis global juga mengakibatkan terjadinya krisis
kepercayaan tehadap bank-bank yang ada. Sehingga transaksi terhadap bank(
pinjam-meminjam) semakin melemah.
3. Kebijakan Terhadap Krisis Global
Meskipun terjadi gejolak
perekonomian global, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang
relatif lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain, khususnya di wilayah
regional. Bank Indonesia telah mengambil serangkaian kebijakan moneter,
perbankan, dan sistem pembayaran secara cermat dan berhati-hati yang bertujuan
untuk mengurangi dampak gejolak perekonomian global terhadap perekonomian
domestik. Upaya menjaga stabilitas perekonomian dan sistem keuangan tersebut
dilakukan dengan tetap mengacu pada tercapainya sasaran inflasi jangka menengah
yang rendah dan stabil guna menjaga kestabilan perekonomian di Indonesia.
Selama tahun 2008, Bank
Indonesia secara konsisten menerapkan Inflation Targeting Framework (ITF)
sebagai kerangka kebijakan moneter dalam rangka pencapaian target inflasi
jangka menengah yang ditetapkan Pemerintah (BI,2008). BI Rate, sebagai
sinyal respon kebijakan moneter,
digunakan untuk mengarahkan pergerakan inflasi dan ekonomi ke depan agar tetap
berada pada jalur pencapaian sasaran inflasinya. Untuk meningkatkan efektivitas
kebijakan moneter tersebut, Bank Indonesia menempuh berbagai kebijakan untuk
menjaga likuiditas di pasar uang rupiah termasuk penyempurnaan pengelolaannya.
Bank Indonesia juga melakukan berbagai kebijakan dalam rangka menjaga
stabilitas nilai tukar Rupiah. Secara umum, kebijakan Bank Indonesia, yang
dilakukan bersinergi dengan Pemerintah, telah dapat mengendalikan inflasi
sehingga tidak meningkat lebih lanjut dan menahan nilai tukar rupiah untuk
tidak terdepresiasi lebih jauh.
Sebelumnya Indonesia dalam
menghadapi gejolak perekonomian global dengan menggunakan international
reserves sebagai buffer stock untuk berjaga-jaga guna menghadapi
ketidakpastian keadaan yang akan datang. Di saat nilai tukar mata uang rupiah
turun terhadap dolar maka international reserves ini digunakan untuk
stabilisasi. Namun pada saat cateris paribus , international reserves
tidak dapat berperan penuh sebagai penstabil nilai tukar mata uang. Dapat
dikatakan pula bahwa international reserves diragukan efektifitasnya
karena saat itu metode ini kurang menggembirakan. Nilai tukar rupiah terhadap
dolar cenderung melemah meskipun international reserves Indonesia terkuras dan
menipis.Peningkatan rata-rata international reserves Indonesia selama
periode penelitian yang dilakukan oleh Priadi Asmanto dan Sekar Suryandari(2008)
adalah sebesar 6,21 % sedangkan perubahan rata-rata nilai tukar riil mata uang
rupiah adalah apresiasi sebesar 0,65%. Real exchange rate Indonesia kurang elastis terhadap perubahan
yang terjadi pada international reserves.
Menyikapi
keadaan melambungnya harga minyak dan krisis ekonomi global, Pemerintah dan
Bank Indonesia melakukan berbagai langkah kebijakan stabilisasi ekonomi makro.
Hingga akhir triwulan I-2008, Bank Indonesia tetap mempertahankan BI Rate di level 8% dengan pertimbangan kondisi
ekses likuiditas dan interest rate differential yang masih lebar
(BI,2008). Kebijakan tersebut juga telah mempertimbangkan bahwa stabilitas suku
bunga tidak mengganggu stabilitas sistem keuangan. Namun demikian, kenaikan
harga minyak yang sangat tinggi pada April 2008 menimbulkan tekanan inflasi
yang tinggi baik bersumber dari kenaikan harga barang pangan maupun nonpangan.
Tekanan inflasi juga diakibatkan oleh semakin kuatnya perintaan dalam negeri.
Untuk mencegah akselerasi tekanan terhadap stabilitas makro, Bank Indonesia
secara bertahap dan terukur menaikan BI Rate sebesar 150 basis poin (bps)
sejak April 2008 hingga mencapai 9,5% pada Oktober 2008 (BI,2008).
Bank Indonesia melakukan
penguatan dalam melekukan stabilisasi ekonomi dengan berbagai kebijakan untuk
meredam dampak negatif dari krisis keuangan global. Terkait dengan hal
tersebut, pada Oktober 2008 Bank Indonesia mengeluarkan paket kebijakan
stabilisasi nilai tukar yang ditujukan untuk mengelola pasokan dan permintaan
valas. Kebijakan untuk menstabilkan pasokan valas mencakup ketentuan FX Swap,
Giro Wajib Minimum (GWM) valas, pelayanan terhadap korporasi dan Wesel Ekspor
Berjangka (WEB). Sementara itu, untuk mengelola permintaan valas, kebijakan
yang dilakukan yakni melarang transaksi valas antara Bank dan nasabah yang dilakukan
tanpa dukungan transaksi ekonomi (underlying transaction), serta
penyediaan valas untuk PLN dalam jangka pendek. Pemerintah juga memperkuat
berbagai langkah kebijakan tersebut dengan menerbitkan ketentuan terkait Jaring
Pengaman Sistem Keuangan (JPSK), menaikkan batas simpanan nasabah yang dijamin
menjadi Rp2 miliar, mengendalikan impor komoditas tertentu, mengurangi Pajak
Ekspor (PE) CPO, mewajibkan BUMN untuk menempatkan dana valas dalam perbankan
domestik, melakukan buyback saham BUMN dan SUN, melarang praktek short
selling pada bursa saham, serta melanjutkan perjanjian bilateral swap yang
sudah berlangsung.
Untuk keseluruhan tahun 2008,
pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,1% (yoy), relatif tinggi dibandingkan
dengan negara tetangga kendati dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi global
terhadap perekonomian domestik berdampak cukup signifikan, terutama pada
triwulan IV-2008 (BI,2008). Dilihat dari distribusinya, pangsa konsumsi swasta
terhadap PDB masih dominan. Namun demikian, pangsa konsumsi swasta terhadap PDB
cenderung menurun dibandingkan dengan tahun 2007, sedangkan pangsa ekspor
cenderung meningkat dan tidak terlepas
dari tingginya pertumbuhan ekspor akibat lonjakan harga komoditas pada paruh
pertama 2008 (BI,2008).
DAFTAR PUSTAKA
Doni,S & Solikin,M 2011, ‘Perilaku Risiko dalam Mekanisme Transmisi
Kebijakan Moneter di Indonesia’, BULETIN EKONOMI MONETER DAN
PERBANKAN,vol.13,
no.3,hh.252, 23 Oktober 2011,< http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/6CF7CC5E-3030-41A7-8991-6BB8EA72295F/23138/DoniSatriaSolikin.pdf>.
Bank
Indonesia 2008, Menakar Prospek Ekonomi Global,Jakarta,hh.62-63,28
Oktober 2011,< http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/8DA09E93-A4E4-4B46-A58C-844D90A9C329/16416/004_bab_ II1.zip>.
Bank Indonesia 2008, Kinerja
dan Prospek Perekonomian Indonesia serta Arah Kebijakan,Jakarta,hh.4-7,28
Oktober 2011,<
http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/8DA09E93-A4E4-4B46-A58C-844D90A9C329/16415/003_bab_I1.zip>.
Denny,P & Nur,I 2009,’ Pemodelan Kurva Imbal Hasil Obligasi Korporasi
Rating AA dan A dengan Nelson Siegel Svensson dan Cubic Spline smoothing’, BULETIN
EKONOMI MONETER DAN PERBANKAN, vol.11,no.4, hh.323,28 Oktober 2011,<
http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/909D9BF9-4B51-411C-B31B-2FBD76806174/17745/BEMP_04091.zip>
Badan Pusat Statistik 2009,Pertumbuhan
Industri Pengolahan Sedang dan Besar Triwulan IV Tahun 2008, Jakarta, hh.2,
25 Oktober 2011,< http://www.bps.go.id/getfile.php?news=662>.
Priadi,A& Sekar,S 2008,’ Cadangan Devisa
, Fimancial Deepening dan Stabilisasi Nilai Tukar Riil Rupiah Akibat Gejolak
Nilai Tukar Perdagangan’, BULETIN EKONOMI MONETER DAN PERBANKAN,vol.11,no.2, hh.138, 28 Oktober
2011,<http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/557B6854-A668-4BF3-B5F1-C9282D696EEF/17294/BEMP_Vol11_02_08.zip>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar