Bross Orandi cantik murmerrrr :)

Bross Orandi cantik murmerrrr :)
Bross Organdi

Sabtu, 17 Desember 2011

Renungan Hari Proklamasi


Renungan Hari Proklamasi

Sambil mengacungkan kepalan tangan ke atas, teriakan “merdeka” berkumandang di segenap penjuru Indonesia. Kalau Jenderal Douglas MacArthur menggelorakan menang perangnya dengan tekad: “in war there is no substitute for victory”. Rakyat Indonesia di bawah naungan Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Bung Tomo, Jenderal Soedirman dan para pemimpin freedom fighters lainnya semangat rakyat tidak kalah menggelora: “Merdeka atau mati!”.
Peringatan Hari Proklamasi, dewasa ini, didominasi oleh upacara-upacara resmi, khususnya upacara nasional yang diselenggarakan di halaman depan Istana Negara dipimpin langsung oleh Presiden RI. Kemudian dikaitkan juga dengan  semacam pesta rakyat di tingkat kelurahan yang cukup ramai dan menimbulkan kegembiraan sepintas.
Agaknya tidak banyak peluang bagi para warga, yang prihatin mengamati situasi kondisi bangsa dan negara, untuk merenungkan, apakah makna yang tersimpul dalam peristiwa amat bersejarah 65 tahun lalu di Jakarta itu masih relevan dengan situasi yang dihadapi bangsa, saat ini? Apakah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia masih mampu menjadi sumber inspirasi yang mengangkat kita dari tekanan depresi melihat bangsa ini seperti terjerat dalam rawa persoalan?
Anda mungkin tidak begitu tergugah lagi betapa peristiwa Proklamasi itu, 65 tahun lalu, merupakan tonggak sejarah yang amat penting untuk mengangkat harkat bangsa sebagai bangsa merdeka. Oleh karena itu, dengarlah kata-kata Ir Soekarno sebelum membacakan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 pagi hari di ruang muka kediamannya, Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi), Jakarta.
Bung Karno, yang baru setengah pulih diserang malaria, mungkin karena ketegangan selama beberapa hari, didampingi oleh Bung Hatta dengan nada serius di depan para tokoh dari berbagai kalangan masyarakat serta pemuda-pemudi berkata: "Saya telah minta saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan suatu peristiwa mahapenting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun."
Kemudian sebelum mengakhiri pengantar singkatnya ia menandaskan: "Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya.... Dengarkanlah Proklamasi kami...."
Kalau awal pergerakan kebangsaan modern dihitung sejak berdirinya Boedi Oetomo pada 1908 (seorang sejarawan Jepang, Akira Nagazumi, menyebutnya sebagai The Dawn of Indonesian Nationalism - "Fajar Nasionalisme Indonesia"), maka 37 tahun telah dilampaui sebelum Proklamasi Kemerdekaan dicanangkan. Selama 37 tahun itu, gerakan kebangsaan mengalami pasang surut dan kepulauan Nusantara dijajah militer Jepang 3,5 tahun.
Umur Republik Indonesia setua 65 tahun ini berarti bahwa periode meragikan ide Indonesia Merdeka, melalui gerakan kebangsaan, sudah lama dilampaui oleh periode yang merealisasikan cita-cita Indonesia Merdeka dengan mendirikan Republik Indonesia. Dan selama 65 tahun itu ternyata "berani mengambil nasib di tangan sendiri" telah mengakibatkan pengorbanan dan penderitaan supaya Sang Saka Merah Putih tetap berkibar megah.
Pernah diperkirakan bahwa RI itu sudah bubar ketika Angkatan Perang Belanda menyerbu ibu kota perjuangan Yogyakarta pada 19 Desember 1948 dan pimpinan nasional (Presiden Soekarno, Wakil Presiden/PM Moh. Hatta, sebagian kabinet, Komandan AURI Komodor Udara Suriadarma) ditahan militer Belanda. Untunglah perjuangan diteruskan dengan kombinasi kekuatan TNI dan rakyat, serta Pemerintah Darurat RI di Sumatera. Karena perjuangan gigih itu dan tekanan internasional, dalam tempo tujuh bulan Presiden Soekarno dan Wapres Moh. Hatta kembali ke Yogyakarta setelah wilayah RI dipulihkan.
Pernah juga ada saatnya ketika haluan dan landasan RI nyaris dibelokkan oleh Presiden Soekarno pada puncak megalomanianya, yang berselingkuh dengan Partai Komunis Indonesia. Andaikata Gerakan 30 September 1965 yang didalangi oleh pemimpinnya DN Aidit dan ingin dimanfaatkan oleh Soekarno tidak gagal, maka sebagian wilayah RI akan dikuasai komunis. Dan perang saudara kemungkinan besar akan pecah.
Mari kita perhatikan secarik catatan perjuangan dua pemuda patriotik Indonesia dalam menentang penjajahan: Soekarno “menggugat” di Pengadilan Bandung (1930), pleidooi-nya berjudul “Indonesi¸ Klaagt-Aan” (“Indonesia Menggugat”), menegaskan: “…imperialisme berbuahkan ‘negeri-negeri mandat’, ‘daerah pengaruh’… yang di dalam sifatnya ‘menaklukkan’ negeri orang lain, membuahkan negeri jajahan… syarat yang amat penting untuk pembaikan kembali semua susunan pergaulan hidup Indonesia itu ialah Kemerdekaan Nasional…”. 
Dua tahun sebelumnya Hatta menuding Pengadilan Den Haag (1928), dalam pleidooi-nya berjudul “Indonesi¸ Vrij” (“Indonesia Merdeka”), Hatta menegaskan: “…lebih baik Indonesia tenggelam ke dasar lautan daripada menjadi embel-embel bangsa lain…”.
Saya ikut membenarkan kesimpulam “Saresehan Ekonomi” di Kompas baru-baru ini bahwa “ruh pembangunan untuk rakyat telah hilang”. Bahkan ditegaskan Michael Hudson (2003) imperialisme berkembang menjadi superimperialisme seperti sekarang dengan segala model hegemoni ekonomi serba canggih. Jangan sampai kita “kepatèn obor”. 
Saya mengharap der grosse Moment (masa besar) sebagaimana dicemaskan oleh filsuf Jerman Friedrich von Schiller, tidak menemui ein kleines Geschlecht (manusia kerdil), tetapi dapat menemukan einen grossen Helden (pahlawan besar) dan dapat melanjutkan perjalanan panjang Bung Karno, long march tanpa perlu putus asa.

Dirgahayu Indonesia Merdeka!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar