Renungan Hari Proklamasi
Sambil
mengacungkan kepalan tangan ke atas, teriakan “merdeka” berkumandang di segenap
penjuru Indonesia.
Kalau Jenderal Douglas MacArthur menggelorakan menang perangnya dengan tekad:
“in war there is no substitute for victory”. Rakyat Indonesia di bawah naungan
Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Bung Tomo, Jenderal Soedirman dan para
pemimpin freedom fighters lainnya semangat rakyat tidak kalah menggelora:
“Merdeka atau mati!”.
Peringatan
Hari Proklamasi, dewasa ini, didominasi oleh upacara-upacara resmi, khususnya
upacara nasional yang diselenggarakan di halaman depan Istana Negara dipimpin
langsung oleh Presiden RI. Kemudian dikaitkan juga dengan semacam
pesta rakyat di tingkat kelurahan yang cukup ramai dan menimbulkan kegembiraan
sepintas.
Agaknya tidak
banyak peluang bagi para warga, yang prihatin mengamati situasi kondisi bangsa
dan negara, untuk merenungkan, apakah makna yang tersimpul dalam peristiwa amat
bersejarah 65 tahun lalu di
Jakarta itu masih relevan dengan situasi yang dihadapi bangsa, saat ini? Apakah
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
masih mampu menjadi sumber inspirasi yang mengangkat kita dari tekanan depresi
melihat bangsa ini seperti terjerat dalam rawa persoalan?
Anda mungkin
tidak begitu tergugah lagi betapa peristiwa Proklamasi itu, 65 tahun lalu, merupakan tonggak sejarah
yang amat penting untuk mengangkat harkat bangsa sebagai bangsa merdeka. Oleh
karena itu, dengarlah kata-kata Ir Soekarno sebelum membacakan Proklamasi
Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 pagi hari di ruang muka kediamannya, Pegangsaan
Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi), Jakarta.
Bung Karno,
yang baru setengah pulih diserang malaria, mungkin karena ketegangan selama
beberapa hari, didampingi oleh Bung Hatta dengan nada serius di depan para tokoh
dari berbagai kalangan masyarakat serta pemuda-pemudi berkata: "Saya telah
minta saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan suatu peristiwa
mahapenting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah
berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus
tahun."
Kemudian
sebelum mengakhiri pengantar singkatnya ia menandaskan: "Hanya bangsa yang
berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan
kuatnya.... Dengarkanlah Proklamasi kami...."
Kalau awal
pergerakan kebangsaan modern dihitung sejak berdirinya Boedi Oetomo pada 1908
(seorang sejarawan Jepang, Akira Nagazumi, menyebutnya sebagai The Dawn of
Indonesian Nationalism - "Fajar Nasionalisme Indonesia"), maka 37
tahun telah dilampaui sebelum Proklamasi Kemerdekaan dicanangkan. Selama 37
tahun itu, gerakan kebangsaan mengalami pasang surut dan kepulauan Nusantara
dijajah militer Jepang 3,5 tahun.
Umur Republik
Indonesia setua 65 tahun ini berarti bahwa periode meragikan ide Indonesia
Merdeka, melalui gerakan kebangsaan, sudah lama dilampaui oleh periode yang
merealisasikan cita-cita Indonesia Merdeka dengan mendirikan Republik
Indonesia. Dan selama 65 tahun itu ternyata "berani mengambil nasib di
tangan sendiri" telah mengakibatkan pengorbanan dan penderitaan supaya
Sang Saka Merah Putih tetap berkibar megah.
Pernah
diperkirakan bahwa RI itu sudah bubar ketika Angkatan Perang Belanda menyerbu ibu
kota perjuangan Yogyakarta pada 19 Desember 1948 dan pimpinan nasional
(Presiden Soekarno, Wakil Presiden/PM Moh. Hatta, sebagian kabinet, Komandan AURI Komodor Udara Suriadarma)
ditahan militer Belanda. Untunglah perjuangan diteruskan dengan kombinasi
kekuatan TNI dan rakyat, serta Pemerintah Darurat RI di Sumatera. Karena
perjuangan gigih itu dan tekanan internasional, dalam tempo tujuh bulan
Presiden Soekarno dan Wapres Moh. Hatta kembali ke Yogyakarta
setelah wilayah RI dipulihkan.
Pernah juga
ada saatnya ketika haluan dan landasan RI nyaris dibelokkan oleh Presiden
Soekarno pada puncak megalomanianya, yang berselingkuh dengan Partai Komunis Indonesia.
Andaikata Gerakan 30 September 1965 yang didalangi
oleh pemimpinnya DN Aidit dan ingin dimanfaatkan oleh Soekarno tidak gagal,
maka sebagian wilayah RI akan dikuasai
komunis. Dan perang saudara kemungkinan besar akan pecah.
Mari kita
perhatikan secarik catatan perjuangan dua pemuda patriotik Indonesia dalam
menentang penjajahan: Soekarno “menggugat” di Pengadilan Bandung (1930),
pleidooi-nya berjudul “Indonesi¸ Klaagt-Aan” (“Indonesia Menggugat”), menegaskan:
“…imperialisme berbuahkan ‘negeri-negeri mandat’, ‘daerah pengaruh’… yang di
dalam sifatnya ‘menaklukkan’ negeri orang lain, membuahkan negeri jajahan…
syarat yang amat penting untuk pembaikan kembali semua susunan pergaulan hidup
Indonesia itu ialah Kemerdekaan Nasional…”.
Dua tahun
sebelumnya Hatta menuding Pengadilan Den Haag (1928), dalam pleidooi-nya
berjudul “Indonesi¸ Vrij” (“Indonesia Merdeka”), Hatta menegaskan: “…lebih baik
Indonesia
tenggelam ke dasar lautan daripada menjadi embel-embel bangsa lain…”.
Saya ikut
membenarkan kesimpulam “Saresehan Ekonomi” di Kompas baru-baru ini bahwa “ruh
pembangunan untuk rakyat telah hilang”. Bahkan ditegaskan Michael Hudson (2003)
imperialisme berkembang menjadi superimperialisme seperti sekarang dengan segala
model hegemoni ekonomi serba canggih. Jangan sampai kita “kepatèn obor”.
Saya
mengharap der grosse Moment (masa besar) sebagaimana dicemaskan oleh filsuf
Jerman Friedrich von Schiller, tidak menemui ein kleines Geschlecht (manusia
kerdil), tetapi dapat menemukan einen grossen Helden (pahlawan besar) dan dapat
melanjutkan perjalanan panjang Bung Karno, long march tanpa perlu putus asa.
Dirgahayu Indonesia Merdeka!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar